Jumat, 18 April 2008

LAPSEvsRELAPSE


PROSES pecandu untuk sembuh sebuah perjuangan berat, namun bukan akhir dari sebuah perjalanan panjang yang masih harus ia tempuh. Ini justru sebuah awal dari hidup baru yang harus ia perjuangkan: bagaimana mendapat pekerjaan yang layak, memulai karier atau membina keluarga.
Walaupun mereka telah dikatakan recovery dari panti rehablitasi narkoba ,dorongan untuk menggunakan kembali masih merupakan pergumulan dalam alam pikiran pecandu. Ada situasi atau benda-benda tertentu yang dapat merangsang mereka untuk kembali menggunakan narkoba.Jika mereka tidak bisa melawannya kondisi relapse akan muncul.Apalagi di Indonesia angka relapse tinggi dimana 9 dari 10 manatan pecandu kemabali jadi pecandu.
Lapse’ vs ‘relapse’
Dalam dinamika kecanduan, harus dibedakan antara lapse dan relapse. Lapse (slip) adalah kembalinya pola tingkah laku pecandu yang sangat sulit terdeteksi. Diperlukan kepekaan melihat perubahan perilaku pecandu yang sedang dalam masa pemulihan. Pecandu sendiri biasanya mengalami pergumulan dalam mengantisipasi kembalinya perilaku adiksinya itu. Relapse adalah masa pengguna kembali memakai narkoba. Itu proses yang berkembang pada penggunaan kembali narkoba yang merupakan kejadian paling akhir dalam satu rangkaian panjang yang berupa respons kegagalan beradaptasi (maladaptive) terhadap stressor atau stimuli internal dan eksternal. Pada kondisi itu pecandu menjadi tidak mampu menghadapi kehidupan secara wajar. Relapse dapat timbul karena pecandu dipengaruhi kejadian masa lampau baik secara psikologis maupun fisik. Lapse dan relapse biasanya dipicu suatu dorongan yang demikian kuat (craving). Dalam bahasa pecandu keadaan itu disebut sebagai 'sugesti' sehingga pecandu sepertinya tidak kuasa menahan dorongan-dorongan tersebut.
Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya lapse dan relapse:
Hal-hal yang mengingatkan pecandu pada narkoba yang biasa dipakainya (momen tertentu, situasi, suara, bau, pikiran tentang narkoba, atau mimpi tentang narkoba).
Status emosi yang negatif atau mengalami stres.
Status emosi yang riang gembira.
Tidak adanya aktivitas.
Perasaan rendah diri atau direndahkan.
Bergaul karib dengan pecandu aktif.
Pada saat craving terjadi, biasanya diperberat dengan aktifnya mekanisme pertahanan mental (denial, rasionalisasi, proyeksi) sehingga akhirnya pecandu memutuskan kembali berperilaku adiksi atau kembali menggunakan narkoba.
tiga mekanisme pertahanan mental, yang biasa ada pada pikiran pecandu, sebagai berikut.
Denial, atau penyangkalan. Dalam diri manusia sering timbul penyangkalan terhadap suatu keadaan atau fakta yang menimbulkan ketidaknyamanan dan pada pecandu denial timbul karena dia tidak mau melepaskan zat 'kesayangannya' atau menyangkal bahwa dia punya masalah mengatasi perilaku adiksinya.
Rasionalisasi. Kalimat yang biasa keluar dari mulut pecandu ialah " Nggak separah itu kok" atau "Saya akan segera berhenti, kan saya sudah ke dokter ahli itu". Kalimat tersebut merupakan tanda dari aktifnya mekanisme rasionalisasi.
Proyeksi, merupakan mekanisme yang paling sulit untuk dikenali, terutama bagi para pendamping atau konselor yang belum berpengalaman dalam mengenal perilaku adiksi. Biasanya kalimat yang muncul adalah "Ini gara-gara hal itu sih maka gue pake narkoba"; "Daripada gue dicurigain terus, sekalian aja gue pake". Jadi proyeksi adalah suatu mekanisme yang biasa digunakan para pecandu untuk 'menggeser' persoalan atau kesalahan ke arah lain, orang lain.
Dapatkah lapse/relapse dideteksi? Mendeteksi kondisi itu merupakan hal yang sulit. Walaupun tanda-tanda perubahan dapat juga dideteksi (lihat tabel Tanda-tanda Perubahan).


Tindakan dalam menghadapi 'lapse/relapse'Jika memang terbukti bahwa pecandu belum kembali menggunakan narkoba (hanya dalam fase lapse), pecandu membutuhkan dampingan yang dapat membantunya untuk mengatasi masalah perilaku adiksinya dan sangat mungkin pendamping (konselor) akan berhadapan dengan ketiga mekanisme pertahanan mental (denial, rasionalisasi dan proyeksi) yang kembali aktif pada diri pecandu
Jika relapse telah terjadi, tindakan yang perlu bagi pecandu bergantung pada berat-ringannya relapse sehingga ada kemungkinan pecandu membutuhkan kembali penanganan dari awal, seperti detoksifikasi dan rehabilitasi nonmedis
Pencegahan ‘lapse-relaspe’Dalam menolong pecandu yang sedang berada dalam proses pemulihan, program pencegahan relapse merupakan salah satu program yang penting, khususnya dalam proses bina lanjut (after care). Sebelum pecandu ikut serta dalam program bina lanjut, ada baiknya dilakukan dulu tes bakat dan minat sehingga aktivitas pecandu. Salah satu tes yang dapat digunakan ialah yang disebut sebagai tes kecerdasan majemuk (Dr Howard Gardner). Menurut Gardner, kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang memiliki nilai budaya. Ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap manusia di dunia ini. Perinciannya sebagai berikut.
Pecandu yang telah diketahui jenis kecerdasannya dapat dipilihkan aktivitas yang sesuai dengan hasil tes.



Rabu, 09 April 2008